Berikut ini adalah beberapa proses penggemblengan mental yang dialami Nabi Muhammad SAW sebelum beliau diangkat menjadi rasul.


Yatim Piatu di Usia Muda dan Berganti-ganti Pengasuhan

“Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu?” (QS. Adh Dhuhaa [93]: 6)

Abdullah bin Abdul Mutholib, ayah Muhammad, telah wafat saat Nabi masih berusia dua bulan di dalam kandungan sang bunda, Aminah. Hanya sempat merasakan buaian kasih sayang sang bunda sebentar, pada usia enam tahun bunda Aminah wafat pula. Lalu Nabi diasuh oleh kakeknya, Abdul Mutholib. Berselang dua tahun berikutnya, sang kakek juga wafat. Sang paman, Abu Tholib, mengambil alih pengasuhan Nabi sejak usia delapan tahun hingga beliau dewasa.
Meski menjadi yatim piatu sejak beliau kecil dan berganti-ganti pengasuh, tidak lantas membuat Nabi tumbuh menjadi pribadi yang labil. Tak sempat mengenal ayah, kehilangan ibu dan kakek, tidak membuat Nabi menjadi anak yang cengeng. Sebaliknya, beliau tumbuh dewasa menjadi seorang pria dengan karakter unggul lewat didikan ibu, kakek, dan paman.



Dibesarkan di Padang Pasir

Nabi dibesarkan di perkampungan Bani Saad di salah satu sudut kota Makkah. Sudah menjadi pengetahuan umum, bahwa jazirah Arab didominasi oleh padang pasir tandus yang minim hujan. Iklim gurun menyebabkan perbedaan suhu antara siang dan malam yang sangat ekstrim. Ditambah lagi serangga dan reptilia gurun pasir yang didominasi satwa-satwa beracun dan berbisa. Tentu saja jauh berbeda dari kondisi saat ini yang menurut kesaksian para jemaah haji bahwa kota-kota besar di Arab justru lebih hijau daripada kota-kota besar di Indonesia.
Kondisi yang serba sulit itulah yang menempa Nabi tumbuh menjadi seorang pria dengan fisik yang kuat dan mental yang tangguh tak mudah menyerah. Belum adanya mesin-mesin transportasi membuat nabi terampil menunggang kuda dan unta. Jarak antar lokasi yang cukup jauh membuat nabi ‘tahan banting’. Sementara itu, tingkat penguasaan teknologi masyarakat kala itu yang masih sederhana (jika tidak ingin dibilang primitif) menumbuhkan daya kreatifitas Nabi dalam menghadapai permasalahan.

Menggembala Kambing

“Tiada ALLAH mengutus seorang nabi kecuali pasti dia penggembala domba.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Percaya atau tidak, menggembala kambing adalah sebuah pelatihan kepemimpinan. Maaf jika ada yang tersinggung, ternyata perilaku gerombolan kambing itu mirip dengan perilaku manusia di dalam sebuah organisasi.
Sifat kambing yang paling mirip dengan manusia adalah, saat kita arahkan si kambing ke kiri ia malah belok ke kanan. Diberi rumput, daun nangka, dan daun singkong sebagai makanan tapi yang dilahap malah tanaman hias. Pekerjaan menggiring kambing yang hanya tiga ekor itu sangat tidak mudah, apalagi yang dua ekor masih balita. Bukannya berat, tapi menguras emosi. Mau marah dan memukul, ya percuma karena mereka tak paham bahasa manusia. Ya mirip dengan pekerjaan seorang pemimpin, bukan?

Berakhlak Mulia Sejak Muda dan Menjaga Pergaulan

Jangan salah, kala Nabi remaja pun sudah ada yang namanya anak gaul, dunia gemerlap (dugem), hang-out alias cangkruk’an, maupun hal-hal yang bersifat trendi dan populer lainnya. Tentu saja dalam wujud yang berbeda. Namun intinya adalah segala hal yang melekat pada kehidupan anak-anak muda yang cenderung anti kemapanan dan ingin beda dari generasi tua.
Ada beberapa kasus penyimpangan sosial yang polanya selalu tetap dari zaman ke zaman yang juga ada di zaman Nabi, yaitu: alkoholisme, penyalahgunaan obat terlarang (candu), perjudian, perzinahan, seks menyimpang, tawuran, dan gaya hidup hedonistik.
Jadi, tingkat godaan kehidupan remaja yang dialami Nabi kala itu relatif sama dengan yang dialami remaja masa kini. Disinilah karakter Nabi hasil didikan keluarganya memainkan peran dalam mencegah Nabi dari terjerumus ke dalam pergaulan yang salah arah. Meski Nabi mengenal banyak orang di sekitarnya, Nabi tetap mampu menjaga diri. Nabi sama sekali tidak pernah terlibat dalam segala kasus penyimpangan sosial seperti yang disebut sebelumnya. Ibarat ikan yang hidup, meski tinggal di dalam air laut yang asin tetapi dagingnya tidak ikut menjadi asin.


MEMANFAATKAN SEGALA POTENSI YANG ADA

Abu Daud meriwayat sebuah kisah yang ia diterima dari Anas bin Malik. Suatu hari ada seorang pengemis dari Anshar datang dan meminta-minta kepada Rasulullah. Beliau bertanya, “Apakah kamu memiliki sesuatu di rumahmu?”

Pengemis menjawab, “Tentu. Saya memiliki pakaian untuk sehari-hari dan sebuah cangkir”.

“Ambil dan serahkan kepadaku!” titah Rasulullah.
Lalu pengemis itu menyerahkannya kepada Rasulullah. Lantas, Rasulullah pun menawarkannya kepada para sahabat. “Siapa di antara kalian yang mau membeli?” demikian tawar Rasulullah.

Salah seorang menyahut, “Saya beli dengan satu dirham”.

Rasul menwarkan kembali, “Adakah yang ingin membayar lebih?”

Lalu, seorang sahabat sanggup membelinya dengan harga dua dirham.

Kemudian Rasul meminta pengemis itu agar uang dua dirham yang diperoleh dari hasil jualan, sebagian dibelikan makanan untuk keluarganya. Sisanya, Rasul perintahkan untuk membeli kapak.

“Carilah kayu sebanyak-banyaknya, lalu juallah! Selama dua minggu ini aku tidak mau melihatmu” tandas Rasulullah memotivasi. Sambil menyuruhnya pergi, Rasul pun memberinya uang transport.

Dua minggu berselang, pengemis itu datang kepada Rasul sambil membawa uang sepuluh dirham hasil penjualan kayu. Rasul menyuruhnya membeli pakaian dan makanan untuk keluarganya.

“Hal ini lebih baik bagimu, karena meminta-minta hanya akan membuat noda di wajahmu di hari akhirat nanti. Tidak layak bagi seseorang untuk meminta-minta kecuali dalam tiga hal, yaitu :
(1) fakir miskin yang benar-benar ridak memiliki sesuatu,
(2) utang yang tidak bisa terbayar,
(3) penyakit yang membuat seseorang tidak bisa berusaha”. Demikian nasehat    Rasulullah.

Pelajaran yang dapat diambil

Betapa indah titah Rasulullah kepada pengemis tadi. Begitu meminta, Rasul tidak lantas memberinya. Beliau menyuruh untuk mengandalkan dulu potensi-potensi yang dimiliki. Dalam hal ini, menjual pakaian sehari-hari dan sebuah cangkir. Pelajaran buat kita hari ini, asah dan andalkan potensi atau kemampuan yang dimiliki. Jika saat ini kamu memiliki kemampuan berbisnis, latih dan kembangkan bisnismu! Jika kamu adalah seseorang yang lebih gandrung dengan dunia seni, latih asah dan kembangkan senimu! Jika kamu adalah seorang yang menemukan kemampuan di bidang kepenulisan, latih, asah dan kembangkan writing skill-mu! Pada itninya adalah, bergeraklah menjemput rezeki dengan apapun kemampuan yang dimiliki!


terus semangat SAHABAT BISMILLAH!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!


Jumat, 10 Februari 2012

SYUKUR & KUFUR ( Kisah Penderita Si Kusta,Si Botak dan Si Buta)

Diriwayatkan dari abu hurairah ra, ia pernah mendengar Nabi Muhammad saw bersabda, bahwa Allah ingin menguji tiga orang bani Isroil. Mereka adalah si penderita kusta, si botak dan si buta,Kemudian Allah mengutus seorang malaikat mendatangi penderita kusta, “Hal apakah yang paling engkau cintai?” Tanya malaikat. Si penderita kusta menjawab, Warna yang bagus, kulit tubuh yang halus dan kesembuhan dari penyakit yang menyebabkan orang-orang membenciku,” Lalu Sang malaikat mengusapkan tangannya pada tubuh si pederita kusta, d an seketika sembuhlah penyakitnya. Kemudian ia memberi warna kulit yang bagus. Sang malaikat bertanya lagi,” Harta apa yang paling engkau sukai?” Si penderita kusta menjawab, “unta .” Maka sang malaikat memberinya seekor unta yang sedang mengandung, sembari berkata, “ semoga  Allah memberkatimu dengan pemberian ini.”

Sang malaikat lalu pergi menemui si botak. “ Hal apakah yang paling engkau cintai?”Tanya malaikat, SI botak menjawab, Rambut yang bagus dan kesembuhan dari botak yang membuat orang orang menghinaku.” Lalu Sang malaikat mengusapkan tangan di kepalanya, maka iapun langsung sembuh dari kebotakan dan rambut yang bagus menghiasi kepalanya Kemudian sang malaikat bertanya lagi.”Harta apakah yang paling engkau sukai?” Si botak menjawab,Sapi” Maka sang malaikat memberi seekor sapi yang sedang mengandung, sembari berkata,” Semoga Allah memberkatimu dengan pemberian ini.”
Kemudian sang malaikat mendatangi si buta dan berkata.” Hal apakah yang paling engkau cintai?” Si buta menjawab, “Aku ingin Allah mengembalikan penglihatanku agar aku bisa melihat orang orang di sekitar.” Lalu 

Sang malaikat mengusapkan tangannya pada mata orang buta itu maka Allah pun mengembalikan penglihatannya. Kemudian sang malaikat bertanya,” Harta apakah yang paling engkau sukai?” Si buta menjawab,” Kambing.Maka sang malaikat memberinya seekor kambing yang sedang mengandung.
Selang berapa lama, unta, sapi, dan kambing tersebut berkembang biak dengan pesat dan akhirnya unta milik orang yang dahulu menderita kusta memenuhi satu lembah, sapi milik orang yang dahulu botak memenuhi satu lembah dan kambing milik orang yang dahulu buta memenuhi satu lembah.. Kemudian sang malaikat mendatangi mereka satu persatu.Ia mendatangi si penderita penyakit kusta yang sudah sembuh dengan menyamar menjadi seorang penderita kusta. Ia berkata sembari mengiba,”Aku adalah orang yang malang dan kehabisan bekal perjalanan. Aku tidak bisa hidup sampai sekarang ini kecuali atas pertolongan Allah. Aku memohon kepadamu atas nama Dzat yang telah menganugrahimu warna kulit yang bagus, kulit yang molek dan harta berupa unta, berilah aku bekal untuk meneruskan perjalananku.”Si bekas penderita kusta itu mencela, “ Banyak sekali permintaan mu!”Maka sang malaikat lantas berkata,”Kelihatannya aku mengenalmu,bukanlah egkau yang dulu si penderita lkusta yang fakir dan di kucilkan orang orang, lalu Allah menganugrahimu?”

Dengan dada di busungkan si bekas penderita kusta berkata “ Aku adalah orang berharta dan aku mewarisi harta ini dari orang kaya pula.”Sang malaikat menimpali,”seandainya engkau berdusta, Allah akan mengembalikamu seperti dahulu.”
Kemudian sang malaikat mendatangi si botak yang telah dikaruniai rambut indah dengan menyamar menjadi sorang botak, seraya berucap hal yang sama seperti yang di katakan kepada si penderita kusta. Lalu si bekas bitak menjawab dengan jawaban yang sama seperti penderita kusta
.Lalu si bekas botak menjawab  dengan jawaban yang sama seperti penderita kusta.Maka sang malaikat mencela,” seandainya kau berdusta Allah akan mengembalikanmu seperti dahulu!”

Kemudian sang malaikat mendatangi si buta dengan menyamar menjadi seorang buta,”Aku seorang ibnu sabil yang malang dan kehabisan bekal perjalanan. Aku bisa hidup sampai sekarang ini kecuali atas pertolongan Allah.Aku memohon kepadamu atas nama Dzat yang telah mengembalikan penglihatanmu dan harta berupa kambing,berilah aku bekal untuk meneruskan perjalananku, “Si buta menawab, Sungguh, dahulu  aku seorang yang buta,lalu Allah mengembalikan penglihatanku, maka ambilah apa yang engkau inginkan dan tinggalkan apa yang engkau kehendaki.Sungguh aku tidak akan keberatan engkau ambil demi kepentingan Allah Yang Maha Perkasa dan Maha Mulia.Sang malaikat menjawab,”Milikilah hartamu itu! Sesungguhnya aku hanya ingin menguji kalian.Allah telah meridhai ( sibuta) dan murka dengan kedua temanmu ( si penderita kusta  dan si botak ) ( HR al Bukhari dan Muslim )

Demikianlah kisah ini, Allah senantiasa menguji hamba-hamba-Nya. Dan kita pun senantiasa diuji oleh-Nya. Dalam kisah tadi, ada dua hal yang menjadi bahan ujian, yaitu kesehatan/penampilan fisik dan harta. Mudah-mudahan kita adalah yang orang yang lulus ujian sebagaimana si Buta. Jika kita ingin seperti si Buta, maka kita harus berusaha menjadi bagian dari orang-orang yang bersyukur dan senantiasa merasakan adanya pengawasan Allah (muroqobatullah). Semoga Allah senantiasa ridho kepada kita dan tidak murka kepada kita semua.. Aamiin.
 
Sahabat Bismillah yang di rahmati Allah, pepatah berkata, hidup ini bagai roda berputar,Allah selalu mempergilirkan kasih sayang Allah kepada kita semua,dari yang fakir menjadi berada dari yang kaya menjadi kebalikannya,lalu bagai mana agar kondisi kehidupan yang di harapkan bisa selalu besama kita dan mendapatkan keridhaan Allah,?semoga dengan kesadaran yang selalu hadir dalam hati kita, kita bisa  tetap menjalankan apa yang telah diperintahkan Allah dalam menjaga kewajiban dan amanah yang telah Allah berikan baik berupa harta,tahta, anak, dan lain sebagainya.jangan sampai harta yang telah Allah berikan lenih kita cintai seperti apa yang telah Allah sampaikan dalam surat At Taubah 24 “Katakanlah: jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.”
Selama Allah memberikan jatah hidup kita hingga suatu saat nanti Allah akan mengambilnya kembali seluruh umat manusia yang mengaku beriman tidak akan pernah lepas dari ujian.” Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?( Q.S 29 : 2 )

SMS FREE

Pages

Powered By Blogger